Ekonomi BisnisHeadlinesPilihanEditor

Migor Curah Masih Mahal dan Langka, Muspika Balung Lakukan Sidak Pasar

JEMBER, suaratimuronline.com – Meski pemerintah sudah mencabut subsidi minyak goreng kemasan dan mengalihkan subsidinya ke minyak goreng curah per 16 Maret lalu, dimana kebijakan ini untuk mengurangi kelangkaan minyak, ternyata tidak serta merta kondisi di pasaran keberadaan minyak goreng tidak  stabil. Keberadaan minyak goreng curah saat ini seperti ‘hilang’ dari pasaran.

Menyikapi hal ini, Muspika Kecamatan Balung Senin (21/3/2022) melakukan sidak (Inspeksi mendadak) ke gudang distributor dan beberapa toko di pasar Balung, dan hasilnya memang keberadaan minyak goreng curah saat ini sulit ditemukan di pasaran.

“Migor curah ini langka tidak setiap hari ada. kalupun ada harganya mahal tembus Rp 20.500 per 1 kilonya (1 kg minyak goreng setara dengan 1,2 liter,red), padahal sejak 16 Maret sesuai surat Kemendag nomor 9 tahun 2022, HET (harga eceran tertinggi) untuk minyak curah ditentukan sebesar Rp14 ribu per 1 liternya,” kata Kapolsek Balung, AKP Sunarto seusai melakukan sidak migor di wilayah Kecamatan Balung.

Sunarto menjelaskan, saat ini pihaknya bersama dengan Muspika masih terus melakukan penelusuran terhadap keberadaan minyak goreng curah.  “Hingga saat ini kami masih melakukan penelusuran ke sejumlah toko penjual minyak goreng curah yang menjual dengan harga mahal yang tidak sesuai dengan anjuran pemerintah,” tuturnya.

Sunarto juga menyatakan, bahwa usai dari melakukan sidak di sejumlah toko di pasar Balung, dan melanjutkan ke gudang distributor, pihaknya tidak menemukan ketersediaan minyak goreng curah.

“Tadi ada toko dan gudang migor curah yang kita cek itu tadi milik satu orang. Selain memiliki toko untuk mengecer ditokonya, dia juga memiliki gudang migor curah yang merupakan disributor penyuplai ke 5 kecamatan yang ada di Kabupaten Jember,” jelasnya.

Menurut Sunarto, sejauh ini dirinya belum menemukan kecurangan harga maupun penimbunan migor curah digudangnya. “Ada 2 tanki digudangnya, semua dalam kondisi kosong karena migor curah telah didistribusikan ke sejumlah toko yang ada di Kabupaten Jember,” ujar Sunarto.

Sementara Soleh salah satu warga Balung mengaku heran dengan kosongnya minyak goreng curah di pasaran, menurut pria sehari-hari berjualan kebutuhan pokok dan kulakan di pasar Balung ini, kelangkaan minyak goreng ini disebabkan adanya sistem borong yang dilakukan oleh pembeli.

“Saya heran, dengan kelangkaan minyak goreng ini, sepertinya ada yang membeli dengan sistem borong, padahal belum lama ini saya melihat sendiri kedatangan minyak goreng curah, eh besoknya saya mau kulakan, ternyata sudah habis,” ujarnya.

Dirinya menduga sistem beli borongan minyak goreng curah ini dilakukan oleh pelaku usaha yang makanan seperti krupuk dan kue, karena usaha ini enggan membeli minyak kemasan, karena harganya mahal.

“Sepertinya ada yang borong, bisa jadi pengusaha krupuk atau pengusaha lainnya, sebab saat minyak datang, hanya selisih 4 hari sudah habis, padahal saya melihat di toko ada 6 drum minyak goreng,” ujar Soleh.

Sementara saat media ini mencoba menelusuri ketersediaan minyak goreng di beberapa toko yang ada di pasar Balung, memang 5 toko besar yang selama ini menyediakan minyak goreng curah terlihat drumnya kosong, bahkan beberapa penjual menyatakan kalau minyak goreng curah habis.

“Habis mas, gak ada minyak curah, harganya per kilo 20 ribu, tapi minyaknya tidak ada,” ujar Fitri (bukan nama sebenarnya) salah satu pemilik toko kepada wartawan. (Minto)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button